05 Januari 2009

Pidato Larry Ellison, CEO dari ORACLE, di sebuah acara wisuda sarjana di Universitas Yale.

7 dari 10 orang terkaya di dunia drop out dari Universitas....

Bagi anda yang tidak bisa mengecap pendidikan tinggi, jangan berkecil hati....
Jalan kesuksesan masih terbentang luas di depan mata.....

Bagi anda yang sudah lulus perguruan tinggi, jangan berbangga dulu, karena sekarang makin banyak sarjana yang menganggur....

Bagi anda yang prestasi akademisnya mandek, kuliah tidak lulus2, jangan frustasi dulu... dan yang terutama jangan bunuh diri.. karena kesuksesan hidup anda tidak di tentukan oleh prestasi akademis anda, baca deh buku2 Robert T Kiyosaki, dan anda akan memahami apa yang saya maksudkan....

Bagi orang tua / calon mertua yang mendewakan gelar sarjana, ini suatu perenungan penting...
Mana lebih penting, sederet gelar yang mentereng, namun cuma jadi karyawan, atau tidak punya gelar sarjana sama sekali, tapi bisa punya anak buah yang gelarnya sederet.....

Silahkan di baca dan di renungkan pidato Larry Ellison dibawah ini

"Graduates of Yale University, I apologize if you have endured this type of prologue before, but I want you to do something for me. Please,take a go, look around you. Look at the classmate on your left. Look at the classmate on the right. Now, consider this: Five years from now, ten years, even thirty years from now, odds are the person on your left is going to be a loser. The person on your right,meanwhile, will also be a loser. And you, in the middle?

What can you expect? Loser. Loserhood. Loser Cum Laude.

In fact, as I look out before me today, I don't see a thousand hopes for a bright tomorrow. I don't see a thousand future leaders in a thousand industries. I see a thousand losers. You're upset. That's understandable.
After all, how can I, Lawrence'Larry' Ellison, college dropout, have the audacity to spout such heresy to the graduating class of one of the nation's most pretigious institutions?

I'll tell you why .. Because I, Lawrence 'Larry' Ellison, second richest man on the planet, am a college dropout, and you are not.Because Bill gates, the richest man on the planet -- for now, anyway -- is a college dropout, and you are not.Because Paul Allen, the third richest man on the planet, dropped out of college, and you did not. And for good measure, because Michael
Dell, No.9 on the list and moving up fast, is a college dropout, and you, yet again, are not.

Hmmm. you're very upset. That's understandable. So let me stroke your egos for a moment by pointing out, quite sincerely, that your diplomas were not attained in vain. Most of you, I imagine, have spent four to five years here, and in many ways what you have learned and endured will serve you
well in the years ahead. You've established good work habits. You've established a network of people that will help you down the road. And you've established what will be lifelong relationships with the word 'therapy'.

All that of is good. For truth, you will need that network. You will need those strong work habits. You will need that therapy. You will need them because you didn't dropout, and so you will never be among the richest people in the world. Oh sure, you may, perhaps, work your way up to No.10
or No.11, like Steve Ballmer. But then, I don't have to tell you who he really works for, do I?

And for the record, he dropped out of grad school. Bit of a late bloomer.

Finally, I realize that many of you, and hopefully by now most of you, are wondering, "Is there anything I can do? Is there any hope for me at all?"
Actually, no. It's too late. You've absorbed too much, think you know too much. You're not 19 anymore. You have a built-in cap, and I'm not referring to the mortar boards on your heads. Hmm. you're really very upset. That's understandable. So perhaps this would be a good time to bring up
the silver lining. Not for you, Class of '00. You are a write-off, so I'll let you slink
off to your pathetic $ 200,000-a-year jobs, where your check will be signed by former classmate who dropped out two years ago.

Instead, I want to give hope to any underclassmen here today. I say to you, and I can't stress this enough: leave. Pack your things and your ideas and don't comeback. Drop out. Start up. For I can tell you that a cap and gown will keep you down just as surely as these security guards dragging me
off."

================================================== ===================

Note :
The statistic of Harvard Business School apprentice said that the 10% of the
lowest grade students (including the HBS drop out) become bosses and the 10%
of the highest grade graduates become lecturers and the rest.......become
the employees of the bosses....
It depends on ourselves to see this.......

We have chances along of our life...which one we want to take....
the biggest chance or the smallest one....
High risk is surely high gain.....you know that

Hare Gene bunuh diri gara-gara ngak lulus kuliah ?

Duh, lagi lagi bunuh diri gara-gara ngak lulus kuliah...

Harusnya di sosialisasikan kepada seluruh Mahasiswa & Calon mahasiswa,
bahwa orang-orang terkaya dunia justru tidak pernah lulus kuliah....

Bahkan menurut Larry Ellison (CEO Oracle yg juga tidak lulus kuliah, tapi masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di dunia) mereka yang lulus kuliah adalah pecundang dan tidak akan pernah bisa jadi orang kaya.....

Baca tulisan saya di sini

Simpati saya buat keluarga yang di tinggalkan, semoga menjadi pelajaran bagi para orang tua yang lain, bahwa lulus kuliah bukan segala-galanya.


Kasus Mahasiswa Bunuh Diri
Peran Keluarga Sangat Penting
Andi Saputra - detikNews

Jakarta - Bunuh diri mahasiswa YAI Hendrawan Winata, 25, di Kampus Atmajaya, mengundang keprihatinan masyarakat. Keluarga mengakui jika Hendrawan selama ini sangat stres karena kuliah tidak kunjung selesai. Diduga kuat, Hendrawan sangat stres akibat masa kuliah tak kunjung lulus.

"Keberanian Hendrawan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari gedung menunjukan dia mengalami tingkat stres yang sangat berat. Apalagi bunuh diri bukan budaya Indonesia," kata psikolog keluarga, Kasandra Putranto kepada detikcom, Selasa (16/12/2008).

Guna mencegah bunuh diri akibat masalah perkuliahan, dia berharap keluarga harus tetap menjalin komunikasi meski cuma makan malam bersama sepekan sekali. Dalam pertemuan keluarga itu, perlu pengungkapan permasalahan sehingga bisa saling memahami sesama anggota keluarga.

"Tapi jangan bertanya dengan nada menghakimi. Seperti, kamu ko kuliah tidak selesai-selesai. Tapi dengan pertanyaan yang terbuka seperti, kamu ada masalah apa, apa ada yang bisa ibu bantu dengan skripsimu," ujarnya.

Pendapat ini dibenarkan oleh alumni FE Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto angkatan 2000, Pamudji Widodo, yang menyelesaikan kuliah selama 8 tahun 2 bulan. Menurutnya, hal yang terpenting mendorong dia akhirnya lulus adalah peran keluarga.

"Orang tua saya selalu bilang, yang penting lulus, gak masalah lama atau cepat. Padahal saya merasa sangat stres waktu itu karena berbagai hal terkait kelulusan saya," kisahnya kepada detikcom.(asp/gah)

29 Desember 2008

Juara kelas yang gagal jadi juara setelah lulus sekolah

Bagi pembaca yang sudah berumur lebih dari 30 tahun, Coba anda mengingat teman-teman semasa sekolah dulu yang masuk 10 besar dari depan dan mereka yang 'beruntung' tidak tinggal kelas dan masuk dalam 10 besar dari belakang...

Coba bandingkan kehidupan mereka saat ini, kalau anda sudah berusia diatas 30 tahun, tentu sudah bisa melihat mana mereka yang sukses (secara finansial) dan mana yang tidak..... Anda tentu terkejut melihat tidak ada korelasi antara prestasi semasa sekolah dengan prestasi di pekerjaan, bisnis, dll.....

Bahkan saya lihat banyak sang juara kelas justru kalah telak dalam hal prestasi kerja di banding teman-teman sekolah mereka dulu, bahkan termasuk dari mereka yang berpredikat terburuk di kelas...

Kenapa ? dalam pandangan saya satu faktor utama yang menjadi penyebabnya....

Semasa sekolah, kita bisa juara kalau teman-teman lain dapat nilai di bawahnya.... Makanya tidak heran, umumnya sang juara kelas ini pelit dalam membagi ilmu kepada teman-temannya, alias ngak mau ngajarin yang lain. Lah kalau diajarin, besok pada dapat 10 semua, yah jadi ngak istimewa donk.... Dan persaingan merebut posisi pertama jadi lebih berat...

Akhirnya sang juara ini terbiasa menjadi individual player selama belasan tahun.... Sementara di dunia kerja berlaku hukum yang sebaliknya....
Pernahkah anda menemukan orang yang punya perusahaan besar yang omsetnya milyaran, tapi semuanya di kerjakan oleh bosnya sendiri ?

Atau adakah seorang CEO, Direktur, Manager yang bisa berprestasi sendirian ?

Kebiasaan sebagai individual player semasa sekolah (pelit bagi ilmu, takut orang lain lebih pintar) yang tertanam selama belasan tahun, menjadi bumerang yang mematikan karier si juara kelas ini..

Saya ingat satu pelajaran penting yang di berikan oleh mantan Bos saya, "Jangan takut memiliki anak buah yang lebih pintar dari kamu, karena ilmu yang harus kamu kuasai adalah ilmu manajerial, sehingga kamu bisa memanage orang-orang pintar tersebut agar bisa dan mau bekerja maksimal untuk kepentingan karier kamu"

Jadi apakah salah bila anak berprestasi di sekolah ? Tentu tidak....
Tapi anda perlu mengajari ketrampilan lain, yaitu ketrampilan memimpin dan ketrampilan lainnya yang jauh lebih penting dibandingkan seabrek pelajaran yang di berikan oleh sekolah...

Coba anda ingat2 lagi, berapa banyak ilmu yang anda dapatkan di sekolah yang masih anda gunakan hingga saat ini ? 10%, 20%, 30%,

kalau saya mereview diri saya pribadi, cuma 10% tuh... semua rumus2 Fisika, Matematika, Kimia yang rumit2 dan bikin sakit kepala tidak ada satupun yang saya gunakan sekarang...
Segala nama latin hewan dan tanaman yang susah payah di hapalkan selama pelajaran Biologi tidak ada satupun yang berguna bagi saya sekarang...

Kalau anda merasakan hal yang sama dengan saya, kenapa kita harus memaksa anak2 kita belajar sesuatu yang akan jadi sampah di kemudian hari ? kenapa tidak dari sekarang kita ajarkan ilmu-ilmu yang jelas-jelas akan berguna dan di pakai terus oleh anak anda hingga dewasa nanti ?

Saat ini anak saya baru umur 2,5 tahun, dan saya punya impian, ketika anak saya lulus sekolah nanti, dia sudah punya pengalaman "kerja" 18 tahun, sementara teman2nya hanya punya pengalaman sekolah 18 tahun, dan ketika teman2nya sibuk melamar pekerjaan dan memulai karier dari bawah, anak saya sibuk menginterview teman2nya untuk dijadikan pegawainya...

Bukan dengan menlanjutkan usaha bapaknya, tapi 100% murni usaha yang dibangunnya sendiri dengan pengalaman 18 tahun jatuh bangun....

Impian yg edan dan sombong ? terserah anda menilainya, tapi bagi pembaca yang mempunyai impian yang sama dengan saya, yuk kita berbagi cerita dan caranya.....

27 Desember 2008

Ekonomi Tumbuh, Tenaga Kerja Malah Tak Terserap

Saya baca artikel tsb, dan bagi saya bukan hal yang aneh mengingat tingkat radikalisme buruh2 di Indonesia. Saya pernah berusan dengan buruh2 di perusahaan tempat saya bekerja dulu., dan itu membuat saya cukup trauma, terutama setiap periode pembayaran gaji.

Kebetulan saya sebagai bagian IT yang di percaya untuk menangani Payroll System. Wuah stressnya, karena gaji tidak boleh terlambat sedetik pun, atau salah sepeser pun, karena kalau tidak para buruh bisa mengamuk... Padahal seringkali kesalahan bukan di pihak IT atau Staff payroll, tapi karena kesalahan buruh sendiri, semisal tidak absen (karena gaji di hitung otomatis dari absensi) atau sudah melakukan koreksi absensi tapi supervisornya tidak menyampaikan koreksi tsb kepada bagian personalia... Seringkali para buruh tersebut minta koreksi di lakukan hari itu juga, tidak mau di rapel ke periode berikutnya....

Mungkin perilaku buruh tersebut karena upah yang di terimanya sangat minim, sehingga perilaku mereka menjadi seperti itu... Yah apapun alasannya, itu sudah menjadikan sebagian investor takut dan menjauhi investasi padat karya, sehingga yang berkembang pesat adalah investasi yang padat teknologi atau padat modal...

Itu sebabnya Wapres Jusuf Kalla mengimbau agar para buruh mengurangi keradikalannya, karena itu akan merugikan buruh sendiri....

Saya teringkat akan kasus hengkangnya Sony dari Indonesia gara2 demo buruh yang berlarut2... bisa baca beritanya di sini dan di sini
Memang hengkangnya Sony bukan semata2 karena faktor buruh, tapi faktor buruhlah yang menjadi pemicunya...
Para Buruh berdemo karena tidak setuju dengan perubahan sistem kerja dari duduk jadi berdiri. Masalahnya kenapa di pabrik Sony di negara lain para buruhnya tidak ada yang protes, tapi cuma yang di pabrik Indonesia saja yang protes ?

Apalagi kabarnya Sony sudah mengaji buruhnya jauh diatas UMP, tapi kenapa mereka masih berdemo juga ?



Jakarta - Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh sektor yang sifatnya padat modal dan tidak padat penyerapan tenaga kerja. Sehingga meskipun pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2008 mencapai 6,39%, namun belum banyak berpengaruh kepada penyerapan tenaga kerja yang otomatis akan mengurangi tingkat kemiskinan.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slamet Sutomo mengatakan tingkat pertumbuhan PDB terhadap penyerapan tenaga kerja semakin lama berkurang.

"Jadi penyerapan tenaga kerja berkurang, kalau dulu dari 1% pertumbuhan bisa menyerap 400 ribu tenaga kerja, sekarang menurun dari 1% pertumbuhan hanya bisa serap mungkin sekitar 200 ribu tenaga kerja saja," tuturnya dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis 14/8/2008)..

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi ini bisa berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dan kemiskinan apabila ditopang oleh sektor industri yang memang banyak menyerap tenaga kerja.

Pada kesempatan terpisah, Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan hal yang sama, yaitu belum berkembangnya sektor industri.

"Industri masih terjadi pertumbuhan tapi belum seperti yang kita harapkan, industri idealnya pertumbuhannya 10%, karena kalau bicara industri kita segala macam tapi itu bukan berarti terjadi deindustrialisasi, kegiatan industri masih berjalan cuma percepatannya tidak terlalu," tuturnya.

Rusman mengatakan sektor yang banyak berperan dalam pertumbuhan ekonomi kuartal II-2008 adalah sektor pertambangan yang booming, transportasi telekomunikasi dan perdagangan.

Di kutip dari detikfinance.com

26 Desember 2008

Nova Diduga Bunuh Diri karena Nilainya Anjlok

Suatu berita yang sangat memilukan yang saya baca dari detik.com
Mengapakah para pendidik di Indonesia dan para orang tua masih juga belum menyadari bahwa nilai bukan segala-galanya.

Silahkan ikuti tulisan2 saya selanjutnya yang bertemakan parenting.

Turut berduka cita bagi Adik Nova, dan semoga keluarga yang di tinggalkan di berikan kekuatan.

Jakarta - Mahasiswi Psikologi UI, Nova Mirawati, diduga bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 7 Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur. Akhir-akhir ini, Nova memang terlihat stres karena nilai-nilai mata kuliahnya anjlok.

"Hasil pemeriksaan sementara kecelakaan. Dia lompat," ujar Kapolsek Kramat Jati Kompol Patar L Touran kepada detikcom, Rabu (17/12/2008).

Patar mengatakan, dari pemeriksaan polisi kepada orangtua Nova, belakangan ini Nova memang tampak stres karena nilai-nilai kuliahnya merosot.

"Orangtuanya memang bilang dia stres. Nilai-nilainya anjlok akhir-akhir ini," katanya.

Jadi bisa dibilang bunuh diri Pak? "Mungkin," jawabnya.

Sejauh ini polisi sudah meminta keterangan 3 orang saksi. Dua orang dari keluarga dan seorang lagi dari pihak PGC. Tidak ada saksi mata yang melihat langsung bagaimana Nova jatuh.

"Yang lihat itu pas sudah ada ramai-ramai. Baru korban dibawa langsung ke rumah sakit," jelasnya.(gus/nrl)

Posting Pertama

Saya sudah mengenal dunia online sejak masih jaman BBS (Bulletin Board System), kalau tidak salah sekitar tahun 1996, waktu itu saya bergabung dengan Red Block, Barong, Pusdata, dan BBS BBS lainnya yg saya sudah lupa namanya.

Yang paling saya ingat adalah lomba posting terbanyak di Pusdata (BBS milik Deperindag), yang mengakibatkan BBS tsb penuh dengan Junk Mail...

Kemudian ada Bemonet dengan membernya yang juga gila2an ngejunk...
Tapi itu semua hanyalah kenangan masa lalu, kejayaan BBS segera sirna ketika internet berkembang.

Internet di awal perkembangannya sangatlah sederhana, baik dari sisi tampilan maupun dari sisi content, tapi seiring berlalunya waktu semakin banyak hal yang bisa di tawarkan internet. Salah satunya adalah Blog.

Selama ini saya menganggap blog adalah untuk orang-orang narsis. Tapi setelah sekian lama dan melihat begitu banyaknya manfaat blog, maka akhirnya saya memutuskan untuk mencoba nge-blog juga, itulah sebabnya saya memberi judul "A New Journey". Karena ini adalah suatu pengalaman yang baru dari saya.

Dan ini adalah posting pertama saya, semoga saya bisa membagi waktu dengan baik, dan tetap bisa mempost artikel sela-sela kesibukan saya.