29 Desember 2008

Juara kelas yang gagal jadi juara setelah lulus sekolah

Bagi pembaca yang sudah berumur lebih dari 30 tahun, Coba anda mengingat teman-teman semasa sekolah dulu yang masuk 10 besar dari depan dan mereka yang 'beruntung' tidak tinggal kelas dan masuk dalam 10 besar dari belakang...

Coba bandingkan kehidupan mereka saat ini, kalau anda sudah berusia diatas 30 tahun, tentu sudah bisa melihat mana mereka yang sukses (secara finansial) dan mana yang tidak..... Anda tentu terkejut melihat tidak ada korelasi antara prestasi semasa sekolah dengan prestasi di pekerjaan, bisnis, dll.....

Bahkan saya lihat banyak sang juara kelas justru kalah telak dalam hal prestasi kerja di banding teman-teman sekolah mereka dulu, bahkan termasuk dari mereka yang berpredikat terburuk di kelas...

Kenapa ? dalam pandangan saya satu faktor utama yang menjadi penyebabnya....

Semasa sekolah, kita bisa juara kalau teman-teman lain dapat nilai di bawahnya.... Makanya tidak heran, umumnya sang juara kelas ini pelit dalam membagi ilmu kepada teman-temannya, alias ngak mau ngajarin yang lain. Lah kalau diajarin, besok pada dapat 10 semua, yah jadi ngak istimewa donk.... Dan persaingan merebut posisi pertama jadi lebih berat...

Akhirnya sang juara ini terbiasa menjadi individual player selama belasan tahun.... Sementara di dunia kerja berlaku hukum yang sebaliknya....
Pernahkah anda menemukan orang yang punya perusahaan besar yang omsetnya milyaran, tapi semuanya di kerjakan oleh bosnya sendiri ?

Atau adakah seorang CEO, Direktur, Manager yang bisa berprestasi sendirian ?

Kebiasaan sebagai individual player semasa sekolah (pelit bagi ilmu, takut orang lain lebih pintar) yang tertanam selama belasan tahun, menjadi bumerang yang mematikan karier si juara kelas ini..

Saya ingat satu pelajaran penting yang di berikan oleh mantan Bos saya, "Jangan takut memiliki anak buah yang lebih pintar dari kamu, karena ilmu yang harus kamu kuasai adalah ilmu manajerial, sehingga kamu bisa memanage orang-orang pintar tersebut agar bisa dan mau bekerja maksimal untuk kepentingan karier kamu"

Jadi apakah salah bila anak berprestasi di sekolah ? Tentu tidak....
Tapi anda perlu mengajari ketrampilan lain, yaitu ketrampilan memimpin dan ketrampilan lainnya yang jauh lebih penting dibandingkan seabrek pelajaran yang di berikan oleh sekolah...

Coba anda ingat2 lagi, berapa banyak ilmu yang anda dapatkan di sekolah yang masih anda gunakan hingga saat ini ? 10%, 20%, 30%,

kalau saya mereview diri saya pribadi, cuma 10% tuh... semua rumus2 Fisika, Matematika, Kimia yang rumit2 dan bikin sakit kepala tidak ada satupun yang saya gunakan sekarang...
Segala nama latin hewan dan tanaman yang susah payah di hapalkan selama pelajaran Biologi tidak ada satupun yang berguna bagi saya sekarang...

Kalau anda merasakan hal yang sama dengan saya, kenapa kita harus memaksa anak2 kita belajar sesuatu yang akan jadi sampah di kemudian hari ? kenapa tidak dari sekarang kita ajarkan ilmu-ilmu yang jelas-jelas akan berguna dan di pakai terus oleh anak anda hingga dewasa nanti ?

Saat ini anak saya baru umur 2,5 tahun, dan saya punya impian, ketika anak saya lulus sekolah nanti, dia sudah punya pengalaman "kerja" 18 tahun, sementara teman2nya hanya punya pengalaman sekolah 18 tahun, dan ketika teman2nya sibuk melamar pekerjaan dan memulai karier dari bawah, anak saya sibuk menginterview teman2nya untuk dijadikan pegawainya...

Bukan dengan menlanjutkan usaha bapaknya, tapi 100% murni usaha yang dibangunnya sendiri dengan pengalaman 18 tahun jatuh bangun....

Impian yg edan dan sombong ? terserah anda menilainya, tapi bagi pembaca yang mempunyai impian yang sama dengan saya, yuk kita berbagi cerita dan caranya.....

27 Desember 2008

Ekonomi Tumbuh, Tenaga Kerja Malah Tak Terserap

Saya baca artikel tsb, dan bagi saya bukan hal yang aneh mengingat tingkat radikalisme buruh2 di Indonesia. Saya pernah berusan dengan buruh2 di perusahaan tempat saya bekerja dulu., dan itu membuat saya cukup trauma, terutama setiap periode pembayaran gaji.

Kebetulan saya sebagai bagian IT yang di percaya untuk menangani Payroll System. Wuah stressnya, karena gaji tidak boleh terlambat sedetik pun, atau salah sepeser pun, karena kalau tidak para buruh bisa mengamuk... Padahal seringkali kesalahan bukan di pihak IT atau Staff payroll, tapi karena kesalahan buruh sendiri, semisal tidak absen (karena gaji di hitung otomatis dari absensi) atau sudah melakukan koreksi absensi tapi supervisornya tidak menyampaikan koreksi tsb kepada bagian personalia... Seringkali para buruh tersebut minta koreksi di lakukan hari itu juga, tidak mau di rapel ke periode berikutnya....

Mungkin perilaku buruh tersebut karena upah yang di terimanya sangat minim, sehingga perilaku mereka menjadi seperti itu... Yah apapun alasannya, itu sudah menjadikan sebagian investor takut dan menjauhi investasi padat karya, sehingga yang berkembang pesat adalah investasi yang padat teknologi atau padat modal...

Itu sebabnya Wapres Jusuf Kalla mengimbau agar para buruh mengurangi keradikalannya, karena itu akan merugikan buruh sendiri....

Saya teringkat akan kasus hengkangnya Sony dari Indonesia gara2 demo buruh yang berlarut2... bisa baca beritanya di sini dan di sini
Memang hengkangnya Sony bukan semata2 karena faktor buruh, tapi faktor buruhlah yang menjadi pemicunya...
Para Buruh berdemo karena tidak setuju dengan perubahan sistem kerja dari duduk jadi berdiri. Masalahnya kenapa di pabrik Sony di negara lain para buruhnya tidak ada yang protes, tapi cuma yang di pabrik Indonesia saja yang protes ?

Apalagi kabarnya Sony sudah mengaji buruhnya jauh diatas UMP, tapi kenapa mereka masih berdemo juga ?



Jakarta - Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh sektor yang sifatnya padat modal dan tidak padat penyerapan tenaga kerja. Sehingga meskipun pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2008 mencapai 6,39%, namun belum banyak berpengaruh kepada penyerapan tenaga kerja yang otomatis akan mengurangi tingkat kemiskinan.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slamet Sutomo mengatakan tingkat pertumbuhan PDB terhadap penyerapan tenaga kerja semakin lama berkurang.

"Jadi penyerapan tenaga kerja berkurang, kalau dulu dari 1% pertumbuhan bisa menyerap 400 ribu tenaga kerja, sekarang menurun dari 1% pertumbuhan hanya bisa serap mungkin sekitar 200 ribu tenaga kerja saja," tuturnya dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis 14/8/2008)..

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi ini bisa berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dan kemiskinan apabila ditopang oleh sektor industri yang memang banyak menyerap tenaga kerja.

Pada kesempatan terpisah, Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan hal yang sama, yaitu belum berkembangnya sektor industri.

"Industri masih terjadi pertumbuhan tapi belum seperti yang kita harapkan, industri idealnya pertumbuhannya 10%, karena kalau bicara industri kita segala macam tapi itu bukan berarti terjadi deindustrialisasi, kegiatan industri masih berjalan cuma percepatannya tidak terlalu," tuturnya.

Rusman mengatakan sektor yang banyak berperan dalam pertumbuhan ekonomi kuartal II-2008 adalah sektor pertambangan yang booming, transportasi telekomunikasi dan perdagangan.

Di kutip dari detikfinance.com

26 Desember 2008

Nova Diduga Bunuh Diri karena Nilainya Anjlok

Suatu berita yang sangat memilukan yang saya baca dari detik.com
Mengapakah para pendidik di Indonesia dan para orang tua masih juga belum menyadari bahwa nilai bukan segala-galanya.

Silahkan ikuti tulisan2 saya selanjutnya yang bertemakan parenting.

Turut berduka cita bagi Adik Nova, dan semoga keluarga yang di tinggalkan di berikan kekuatan.

Jakarta - Mahasiswi Psikologi UI, Nova Mirawati, diduga bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 7 Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur. Akhir-akhir ini, Nova memang terlihat stres karena nilai-nilai mata kuliahnya anjlok.

"Hasil pemeriksaan sementara kecelakaan. Dia lompat," ujar Kapolsek Kramat Jati Kompol Patar L Touran kepada detikcom, Rabu (17/12/2008).

Patar mengatakan, dari pemeriksaan polisi kepada orangtua Nova, belakangan ini Nova memang tampak stres karena nilai-nilai kuliahnya merosot.

"Orangtuanya memang bilang dia stres. Nilai-nilainya anjlok akhir-akhir ini," katanya.

Jadi bisa dibilang bunuh diri Pak? "Mungkin," jawabnya.

Sejauh ini polisi sudah meminta keterangan 3 orang saksi. Dua orang dari keluarga dan seorang lagi dari pihak PGC. Tidak ada saksi mata yang melihat langsung bagaimana Nova jatuh.

"Yang lihat itu pas sudah ada ramai-ramai. Baru korban dibawa langsung ke rumah sakit," jelasnya.(gus/nrl)

Posting Pertama

Saya sudah mengenal dunia online sejak masih jaman BBS (Bulletin Board System), kalau tidak salah sekitar tahun 1996, waktu itu saya bergabung dengan Red Block, Barong, Pusdata, dan BBS BBS lainnya yg saya sudah lupa namanya.

Yang paling saya ingat adalah lomba posting terbanyak di Pusdata (BBS milik Deperindag), yang mengakibatkan BBS tsb penuh dengan Junk Mail...

Kemudian ada Bemonet dengan membernya yang juga gila2an ngejunk...
Tapi itu semua hanyalah kenangan masa lalu, kejayaan BBS segera sirna ketika internet berkembang.

Internet di awal perkembangannya sangatlah sederhana, baik dari sisi tampilan maupun dari sisi content, tapi seiring berlalunya waktu semakin banyak hal yang bisa di tawarkan internet. Salah satunya adalah Blog.

Selama ini saya menganggap blog adalah untuk orang-orang narsis. Tapi setelah sekian lama dan melihat begitu banyaknya manfaat blog, maka akhirnya saya memutuskan untuk mencoba nge-blog juga, itulah sebabnya saya memberi judul "A New Journey". Karena ini adalah suatu pengalaman yang baru dari saya.

Dan ini adalah posting pertama saya, semoga saya bisa membagi waktu dengan baik, dan tetap bisa mempost artikel sela-sela kesibukan saya.