27 Desember 2008

Ekonomi Tumbuh, Tenaga Kerja Malah Tak Terserap

Saya baca artikel tsb, dan bagi saya bukan hal yang aneh mengingat tingkat radikalisme buruh2 di Indonesia. Saya pernah berusan dengan buruh2 di perusahaan tempat saya bekerja dulu., dan itu membuat saya cukup trauma, terutama setiap periode pembayaran gaji.

Kebetulan saya sebagai bagian IT yang di percaya untuk menangani Payroll System. Wuah stressnya, karena gaji tidak boleh terlambat sedetik pun, atau salah sepeser pun, karena kalau tidak para buruh bisa mengamuk... Padahal seringkali kesalahan bukan di pihak IT atau Staff payroll, tapi karena kesalahan buruh sendiri, semisal tidak absen (karena gaji di hitung otomatis dari absensi) atau sudah melakukan koreksi absensi tapi supervisornya tidak menyampaikan koreksi tsb kepada bagian personalia... Seringkali para buruh tersebut minta koreksi di lakukan hari itu juga, tidak mau di rapel ke periode berikutnya....

Mungkin perilaku buruh tersebut karena upah yang di terimanya sangat minim, sehingga perilaku mereka menjadi seperti itu... Yah apapun alasannya, itu sudah menjadikan sebagian investor takut dan menjauhi investasi padat karya, sehingga yang berkembang pesat adalah investasi yang padat teknologi atau padat modal...

Itu sebabnya Wapres Jusuf Kalla mengimbau agar para buruh mengurangi keradikalannya, karena itu akan merugikan buruh sendiri....

Saya teringkat akan kasus hengkangnya Sony dari Indonesia gara2 demo buruh yang berlarut2... bisa baca beritanya di sini dan di sini
Memang hengkangnya Sony bukan semata2 karena faktor buruh, tapi faktor buruhlah yang menjadi pemicunya...
Para Buruh berdemo karena tidak setuju dengan perubahan sistem kerja dari duduk jadi berdiri. Masalahnya kenapa di pabrik Sony di negara lain para buruhnya tidak ada yang protes, tapi cuma yang di pabrik Indonesia saja yang protes ?

Apalagi kabarnya Sony sudah mengaji buruhnya jauh diatas UMP, tapi kenapa mereka masih berdemo juga ?



Jakarta - Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh sektor yang sifatnya padat modal dan tidak padat penyerapan tenaga kerja. Sehingga meskipun pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2008 mencapai 6,39%, namun belum banyak berpengaruh kepada penyerapan tenaga kerja yang otomatis akan mengurangi tingkat kemiskinan.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slamet Sutomo mengatakan tingkat pertumbuhan PDB terhadap penyerapan tenaga kerja semakin lama berkurang.

"Jadi penyerapan tenaga kerja berkurang, kalau dulu dari 1% pertumbuhan bisa menyerap 400 ribu tenaga kerja, sekarang menurun dari 1% pertumbuhan hanya bisa serap mungkin sekitar 200 ribu tenaga kerja saja," tuturnya dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis 14/8/2008)..

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi ini bisa berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dan kemiskinan apabila ditopang oleh sektor industri yang memang banyak menyerap tenaga kerja.

Pada kesempatan terpisah, Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan hal yang sama, yaitu belum berkembangnya sektor industri.

"Industri masih terjadi pertumbuhan tapi belum seperti yang kita harapkan, industri idealnya pertumbuhannya 10%, karena kalau bicara industri kita segala macam tapi itu bukan berarti terjadi deindustrialisasi, kegiatan industri masih berjalan cuma percepatannya tidak terlalu," tuturnya.

Rusman mengatakan sektor yang banyak berperan dalam pertumbuhan ekonomi kuartal II-2008 adalah sektor pertambangan yang booming, transportasi telekomunikasi dan perdagangan.

Di kutip dari detikfinance.com

Tidak ada komentar: